Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

14.11.18

Dilema

Antara ingin tetap merasakan hati,
atau menumpulkan perasaan lagi, 
Aku yang selama ini,
selalu menumpul demi 
mencegah sakit diri, 
membangun tembok tinggi 
tak peduli sepi. 
Aku yang ingin membuka diri,
Tapi tak ada yang peduli
Aku yang terlanjur begini, 
Sudah berani,
Merasa lagi,
Justru tak disukai.
Apa harus ku kembali,
Menjadi pribadi,
Berteman sepi,
Yang terus merepresi,
Melindungi hati yang nyeri?
Senja, November 2018

24.9.17

What I've learnt.


Halo. Post hari ini spesial karena saya baru saja menambah setahun trek rekord hidup saya. Semakin saya tua, entah kenapa semakin sedikit keinginan saya untuk menandai tanggal ini dengan cara yang meriah. Maka, tahun ini ketika seperti biasa orang tua saya tanya anaknya kepengen apa, saya ngasal bilang, cm pengen semesta kasih pelajaran baru lagi buat saya. Since, setahun kemarin penuh dengan berbagai hal dan pelajaran baru yg semesta kasih ke saya. and BOOM, ternyata saya dikasih beneran, even sebenernya saya ngga se terkejut itu, tapi waktu pemberiannya bikin saya cukup shock. wkwk.
Tahun ini, beda buat saya. Dari bulan oktober sampai tahun baru yang bikin saya nulis cukup banyak di blog ini, sampai bulan-bulan setelahnya yang bikin saya belajar lebih banyak lagi tentang saya, tentang orang lain, tentang hidup, dan tentang semesta. Setahun ini, full semesta ajak saya bercanda, mungkin, ayolah de, santai dikit kalo jalanin idup, terima aja apa yg semesta kasih. And well, finally itu yang saya lakukan. Karena kalau nggak, bisa gila stres sendiri kayanya.
I messed up. Saya tahu, semesta selalu kasih saya pilihan, saya sudah memilih dan saya pun tahu konsekuensinya. Sekalipun pada akhirnya beberapa pilihan membuat saya merasa frustasi, saya nggak pernah menyesal lagi dari apa-apa yang saya dapat. Saya ngga bisa bohong kalau berapa persen dari bersyukurnya saya, perasaan kalau saya messed things up itu ada. Tapi, saya bisa apa? toh dari awal saya sudah tahu, dan sudah memperhitungkan. Se nggerundelnya isi hati saya, selalu saya balikin lagi, kalau sebenarnya saya sudah tahu, kenapa dipikir terus.
Tahun ini saya banyak dikasih pelajaran tentang bagaimana melihat hal dari dua sisi. Seperti yang sudah sering dibilang, everything that happens, always have two sides, just like the coin. Nggak cuma melihat, saya merasakan. Merasakan bagaimana berada di sisi satunya dari koin tersebut. Dulu, saya yang selalu tidak suka akan sisi satunya, merasa sisi satunya lebih mudah, yang tidak memahami mengapa orang mengambil keputusan di sisi yang bersebrangan dari saya, sekarang saya tahu. Saya tahu kalau tidak semudah itu, tidak seenteng itu, dan jangan pernah ngomong- bahkan menjudge sesuatu sebelum tahu dari kedua sisi. Merasakan berbeda dengan melihat, saat kamu secara langsung ada didalamnya, hal tidak pernah semudah yang tampak. 
dan, satu lagi.
"I have everything to offer to you, but you seek for something that I don't have." 
Gimana rasanya saat kamu merasa kamu punya segalanya yang bisa kamu berikan; yang dulu kamu nggak bisa kasih, ternyata tetap nggak cukup? Kamu yang merasa sudah lebih baik dari kamu yang dulu, ternyata nggak cukup buat standar orang lain. Ternyata sebuah hubungan bagaikan konsep demands and supply, ternyata nggak butuh hal besar, hanya butuh produk yang cocok? saya bisa apa kalo saya punyanya supermarket raksasa tapi kamu minta beli semen? segimananya saya tidak mendapat produk yang cocok, entah kenapa saya tetap coba cari substitusi even itu melelahkan karena harus megobrak-abrik rak penjualan. tapi, itu saya. Sedih. Tapi, setidaknya, saya belajar untuk semakin mengenali diri saya yang banyak kurangnya ini.

Now I feel the pain, the difficulties to decide, the anger, to be the one who is left behind, and I can't thank the universe even more.
--

5.8.16

Life Redefined

Hi! Lagi pada liburan ya? Lagi musimnya seneng-seneng nih. Saya pengen cerita soal baksos angkatan kemarin. Ini baksos pertama yang saya lakukan jadi super excited wkwk. Baksosnya 5 hari, di desa Ngempit, Pasuruan, Jaw Timur. Jadi pertama saya jadi panitia di divisi Litbang; divisi yang tugasnya nyari- nyari desa buat dibaksos, survei gitu, saya kasih tunjuk dikit waktu survei(bonus jalan jalan) wkwk (credit buat Nanda yang waktu itu dokum-in kita kita). Jadi, karena kerjaan udah selese pre-baksos, waktu baksos saya bantuin di divisi Humas dan nugas untuk mengajar TK. 




Sebelum berangkat, angkatan saya dilepas sama fakultas, terus berangkat, pembukaan di Balai desa. Besoknya, baru saya ngajar adik-adik TK. Selama baksos, saya dan temen-temen tinggal di rumah penduduk, kami punya orang tua asuh buat 5 hari kedepan. Awalnya, saya khawatir karena agak rewel soal makan dan super masuk anginan.. Tapi, alhamdulillah dapet rumah yang enak (meskipun sempat masuk angin wk ) dan orang tua asuh yang baik banget + ibu asuh saya kalo masak super enak! Tidak semua teman saya seberuntung saya, ada juga yang rumahnya kosongan, tidur pakai tikar, bahkan ada yang sempat dapet rumah yang ada kuburannya :/

Ekspektasi saya, sesulit apasih mengajar anak TK hahaha. Tapi ternyata, yang saya harus ajarin anak TK A yang istilahnya masih siswa baru dan belum genap seminggu sekolah. Bingung harus gimana, sampai ada yang nangis dan nggak mau masuk kelas wkwk. Sebagian besar murid saya disini nggak ngerti bahasa Indonesia, dimana saya ngerasa kenapa nggak belajar banyak bahasa Jawa yang baik dan bener dulu waktu SMP wkwk. Saya ngajar cuma sampai jam 10 pagi dan nggak ada kerjaan lagi setelah itu. 

Akhirnya, daripada berdiam dirumah, saya memutuskan untuk explore desa ini. Jarang-jarang kan. Bersama 3 temen saya akhirnya saya jalan muterin desa sekaligus lebih mengenal orang-orang sini. Orang-orangnya super ramah, bahkan sampe nawarin kita masuk rumah untuk sekedar makanin jajan. Disini, saya melihat sisi lain dari hidup, gimana ramahnya orang padahal nggak kenal yang jarang banget ada di kota. Kemana-mana disapa dan menyapa yang dibales dengan baik juga. Dimana di kota, sekedar disenyumin aja belum tentu ditanggepin. Semua terlihat begitu tulus, disini saya bener bener merasa genuine dan seneng yang nggak dibuat-buat. Lebih jarang pegang hp dan bener-bener berinteraksi sama masyarakat.

Situation.


Es tebu 2.000 yang super enak


Es Kacang Ijo Rp 3.000,-
Sepanjang jalan, yang saya perhatikan dari desa ini adalah rumahnya yang sederhana dengan warna kusen pintu dan jendela yang mencolok. Biru, hijau, ungu, berbeda sekali dari yang pernah saya lihat di perkotaan. Sebagian penduduk desa ini masih melakukan MCK di jamban pinggir sungai. Beberapa kali saya lihat mereka baru keluar dari jambannya lalu menyapa kami. Anak-anak kecil di desa ini juga masih mandi di sungai yang airnya digunakan untuk MCK tadi.




Anak anak kecil mandi di sungai


Persawahan di timur desa

Saat jalan menyusuri desa, beberapa anak menghampiri saya dan teman-teman, malu malu mengajak berkenalan, ngobrol, lalu mengajak kami ke sebuahh rumah pohon ditengah sawah yang baru pertama kali ini saya lihat dan masuk ke rumah pohon. Mereka tidak mengenal kami, meskipun salah satu dari mereka, namanya Roy, merupakan murid saya di TK, mereka tetap dengan senang hati ngobrol dengan kami, tertawa, dan mengajak kami jalan-jalan. Anak anak disini nggak punya gadget seperti anak kota yang diem didalem rumah. Saya melihat bagaimana polosnya mereka dan kesenangan mereka yang sederhana.
 
Roy


Rumah pohon

Nabil & Faizul




Polos.

Robin.

 

Ayam Sia

Jajan jaman SD duluu
Overall, banyak banget yang saya dapet dari baksos ini. Gimana hidup sendiri yang mandiri, interaksi dengan berbagai macam tipe orang dan masyarakat, dan melihat sisi lain dari kehidupan.

22.5.16

Midnight thoughts

It come to my senses that sempurna itu tidak ada. We try too hard to be perfect until we lose ourselves.

Why do we feel insecure all the time?
Akan selalu ada yang lebih cantik, lebih menarik, lebih baik, lebih dermawan, lebih sabar, lebih lebih dari kita.
Akan selalu ada yang lebih, anyway you tried.

Konyol kalau masih terus membandingkan diri dan ingin menjadi orang lain. Kamu ya kamu. Individu yang berbeda. Kita semua berbeda. 

Tidak akan ada habisnya membandingkan dan mencari yang sempurna.
Yang sempurna itu, tidak pernah ada.

At least, we can hold on to most of the perfection criteria.

13.1.15

Jogja ; on the other side

Hai! sekarang saya lagi menikmati liburan pertama di bangku perkuliahan! Ngga kerasa ya, satu semester udah kelewatin. Rasanya cepet banget. I've been through a lot too.. Saya ceritain aja ya kapan-kapan. Disini mau cerita dulu liburan saya sama bolang tanggal 8 kemarin, ke Jogja. Ini trip ke - 4 saya (kalo nggak salah) sama Bolang. Alhamdulillah yang kali ini full-team :) Jadi, pertamanya kita bingung mau liburan kemana karena emang budget lagi tipis dan buntu tujuannya. Mumpung si Teten lagi pulang terus dia ngusulin deh ke Jogja aja; since dia udah kesana berkali-kali haha. Kita nyari jadwal terus hunting tiket kereta.

Akhirnya tiket kereta PP udah dibeli. Tanggal 8 naik sancaka pagi pulang tanggal 10 naik sancaka sore. Niatnya mau pulang tanggal 11 cuma tiketnya tinggal Turangga aja yang buat berlima dan itu mahal banget :') Ribet juga nyari hotel. Yang jauh dari mana-mana; yang angker; yang kemahalan, macem macem sampe akhirnya kita baru book hotel H-3 di Ibis Malioboro, Rate per malemnya 800-ribuan. Agak mahal, tapi kemana-mana bisa jalan kaki :)

H-seminggu mau berangkat, Laras sama Anggun bilang kalo mereka tanggal 8 jam 1 masih ada ujian. Langsung panik semua akhirnya nunda keberangkatan sorenya alias nyusul.. Lama banget rasanya nunggu liburan diantara uas dan ujian perbaikan. I'm glad I've gone through it hahaha.

Tanggal 8, jam 7 pagi saya udah nunggu di stasiun. Naik kereta yang alhamdulillah gerbongnya tidak mengecewakan karena lebih bagus dari ingatan saya :) ini sempet saya fotoin juga

empty seat.

Sampe Jogja jam 11 check-in hotel deh, setelah galau berkelanjutan kita mikir nyewa mobil hari kedua aja jadi hari ke-3 super mbolang. Nawarlah becak ke Taman Sari, kena 60 rb PP, lebih murah dari dokar 150 rb PP. Becaknya segitu karena taman sari jauh dan kita bertiga... gede-gede-kecil. Kasian juga sih bapaknya.. Taman Sari tutup jam 4 jadi harus cepet kalo pengin kesana. Masuknya murah kok nggak sampai 10 ribu. Isinya ya kolam, sama ada masjid bawah tanah. Agak ruwet rutenya jadi kalo saran saya nih, pakai aja guide-nya, seikhlasnya kok bayarnya. Soalnya saya waktu kesana nggak pakai guide jadi nyusup rombongan lain biar ngga tersesat hehe

becak bertiga :))

Kolam di Taman Sari


Ter mainstream 2015 ; Background Graffiti 

Jalan ke Masjidnya
The Famous Stairs!

Abis dari Taman Sari, balik ke Malioboro terus ke Museum Benteng Vredeburg. Cukup 2 ribu udah bisa masuk. Isinya ya diorama sih cuma waktu itu saya dan teman-teman penasaran dengan isinya haha. Bagi pecinta sejarah silahkan dicoba kesini :) Oiya, museum tutup sekitar jam 4 sore, jadi jangan sampai kesana waktu sudah tutup ya!

The Gate
Silly me & my statue boyfie whose goin to war
uda cape :))

Maaf ya aib semua fotonya di vredeburg hahaha. Abis liat diorama, kita bingung mau kemana.. Akhirnya kita memilih untuk ke Museum Trick Eye (google aja alamatnya) yang kapan hari direkom Anggun. Daripada mahal naik taksi.. akhirnya saya dann teman-teman naik TransJogja. 4 ribu aja, naik bus 2A buat ke museumnya (hasil nanya ke mas-mas penjaga halte). Ekspektasi saya, museum ini bakal kaya Trick Art yang ada di Surabaya Carnival Night Market (kapan-kapan saya post disini ya!). Dengan tiket masuk 35 ribu yang cukup mahal dan embel embel "Terbesar di Indonesia" wajar dong saya ekspektasi banyak. Tapi, waktu saya masuk, ternyata tidak seindah bayangan. Gambarnya hasil printing, memang banyak, tapi jelek untuk dibuat foto. Kenapa? Karena penerangannya yang kurang memadai dan karena kertas printing yang digunakan (spt yg biasanya di banner) jadinya pencahayaannya memantul. Dengan harga segitu... mengecewakan menurut saya. Ini saya kasih beberapa foto biar dapet gambaran ya.


the light reflects -_-

Pulangnya, saya dkk pilih naik taksi buat ke Bakmi Kadin. Yang ke Jogja wajib coba! Kata Teten sih, mi rebus Jogja mana sih yang ga enak..Saya googling alamatnya di JL. Bintaran Kulon, No. 3 & No. 6, Daerah Istimewa Yogyakarta 55151, Indonesia. Soalnya bakmi ini ngga buka cabang. Dari yang saya liat di tr*ns tv sih telurnya pakai telur bebek. 


Hari kedua, Bolang udah fullteam yay! Kita sewa mobil, 550 ribu (sewa mobil Jogja mahal ternyata) 12 jam udah supir sama bensin (biar bisa ngira-ngira ya kalo reader sewa mobil di Jogja). Sebenernya destinasi hari kedua banyak tapi karena waktunya ga cukup, dipilah lagi deh. Pertama, kita ke Ulen Sentalu, museum Jawa di daerah Kaliurang. Waktu itu jam setengah 10, harusnya museum sudah buka, cuma lagi ada rombongan banyak jadinya kita disuruh balik jam 11. 

Akhirnya kita ke Merapi dulu. Disana sewa Jeep 300 ribu dapet trip offroad super seru! WAJIB COBA! Jalannya menantang tapi super asik. Driver kita hari itu juga pro banget, dilewatin jalan yang isinya batu dan no way mobil biasa bisa lewat, jalan naik turun sampe kita mumbul alias terbang(?) di mobil, sampe ngedrift di pasir-pasir kita teriak ga jelas sepanjang perjalanan :') pengen lagii! Disana kita ke museum sisa hartaku, isinya rumah, tulang, sama sisa benda-benda yang kena awan panasnya Merapi, ngeliat sungai tempat laharnya lewat, ngeliat rumah yang tinggal kerangka aja, ke bungker, sampe foto-foto pake background merapi. Alhamdulillah drivernya kayanya punya pekerjaan sampingan fotografer karena foto kita yang dia ambil bagus-bagus hahaha. Pulangnya karena pengen ngerasain berdiri diatas Jeep.. saya berdiri sama Anggun sambil teriak-teriak diliatin pengunjung yg lain :))




Drivernya pro naikin Jeep ke batu demi foto bagus hahaha
Anak offroad cuy
Museum Sisa Hartaku

kurang dr 10 km dari Merapi

Akhirnya kita balik ke Ulen Sentalu. Harga masuk 30 ribu, saya dkk nunggu sekitar 15 menit karena ternyata sistemnya disana masuknya gantian, dan ada tour guidenya. Sayangnya, nggak boleh ambil foto; ada tempat khusus buat foto. Padahal, tempatnya bagus banget! Di dalem Ulen Sentalu, guide-nya cerita sejarahnya, Keraton Jogja gimana, Solo gimana, Pakualaman gimana, siapa aja rajanya, silsilahnya, tokoh-tokohnya, sampe corak batik Solo-Jogja dan dipake batiknya waktu kapan. Tempatnya bagus jadi.... kesini ya ngga nyesel kok! sekalian belajar budaya Jawa :)



Habis dari sana, kita ke House of Raminten karena laper dan penasaran pengin nyobain. Enak dan ga mahal :) terus kita ke Nglanggeran. Pertamanya ke Gunung Purba, kita coba deh naik, tiketnya 2 ribu aja kok.. dan ternyata..... itu mendaki :') kita udah saltum dan pake sepatu yang salah dan samasekali bukan pendaki jadi.... kita setengah perjalanan terus takut (gaada guide) akhirnya turun. Karena emang medannya terjal dan licin, jadi mending kalo kesini ada cowonya ya biar ada yang nolongin, kayanya diatas bagus soalnya hahaha. Karena gajadi, kita ke Embung. Kayanya artinya waduk deh.. soalnya dia waduk gitu. Kita harus naik tangga sampe ke atas dan view-nya subhanallah... wajib kesini! Asli-bagus-banget... super ijo... dihiasin awan-awan.. tebing batu berjajar di sebelah kanan.. ga berenti nyebut ;') Anginnya kenceng banget jadi kalo takut masuk angin, pake jaket ya!



ini Embung-nya

The majestic view :')

Nah pulangnya, kita sempetin ke Bukit Bintang buat liat Sunset dan Jogja waktu malem. Disana banyak warung yang emang viewnya ke kota Jogja. Another amazing view. Subhanallah.

Sunset
Jangan lupa mampir ke Kalimilk. Susunya so yummy :9 I recommend the Hazelnut one! Sama broccoli n cheesenya enak dan murah :')

Besoknya, saya cuma belanja oleh-oleh di Pasar Beringharjo (oke ini wajib buat yang berani nawar) dan pulang dengan tenang... meskipun gerbong keretanya ga sebagus waktu berangkat dan kedinginan sepanjang perjalananan pulang...

Overall, liburan kali ini bikin saya liat sisi lain dari Jogja selain jalanan Malioboro. You gotta visit Jogja guys!