Hi. Jadi akhir-akhir ini semakin sering mengamati manusia dan perangai-perangainya. Semakin umur saya bertambah, rasanya saya cenderung memilah mana yang harus saya tanggapi, mana yang tidak. Masa bodoh dengan perangai manusia yang saya anggap nggak penting, yang nggak faedah, yang nggak perlu saya tanggepin.
Beberapa saat lalu, beredar post-an video di line tentang siapa yang bertanggung jawab membayar pengeluaran kencan; laki-laki, atau perempuan. Video tersebut direkam dalam suatu forum, dengan mayoritas pesertanya wanita, dan pembicaranya laki-laki. Saat sang narasumber menanyakan siapa yang seharusnya membayar, serempak dijawab, ya laki-laki lah. Suatu hal yang awam kita jumpai sekarang. Dalam suatu hubungan, lelaki yang sudah seharusnya, dan sewajarnya berkorban membayar, menjemput, mengantar, menjadi romantis. Jika tidak dilakukan, bilangnya, cowok macem apa tuh. Hal yang membingungkan bagi saya. Sebenarnya, yang ada dalam hubungan itu, siapa? Perempuannya saja? Laki-lakinya saja? Kan, dua duanya. Dimana kedua-duanya harus usaha. Dari mana tuh definisi kalau cowok, harus antar jemput, harus yang bayar kalau makan? Beda cerita kalau sudah dalam ikatan pernikahan lho ya. Ini mash pacar, lain cerita lagi kalau suado punya penghasilan sendiri. Maksud saya, memangnya ada yang salah kalau perempuan yg bayar sendiri? Perempuan yang jemput? Toh, sama-sama manusianya, sama-sama didalam hubungannya? Kapan hari, saya dibilang budak cinta karena doyan jemputin. Lah? Budak cinta darimana? Saya ngelakuinnya juga nggak keberatan, seneng-seneng aja. Definisi darimana kalau lelaki yang harus terus-menerus usaha?
It's just doesn't work that way for me. Sudah ngapain aja sebagai perempuan hingga ada aturan kalau harus dimuliakan dan diperlakukan seperti putri sedemikian rupa? Balik lagi, dalam konteks hubungan yang bukan pernikahan ya. Usaha itu penting, esensial, sampe segitu pentingnya, sering susah dilihat :) Tell me, seberapa sering kita melihat hasilnya aja, alias result-oriented instead of melihat usahanya? Sering, banget. Usaha itu ngga gampang, jangan diremehkan, jangan lupa diliat, jangan lupa diapresiasi. Relationship works both ways, bapak-bapak dan ibu-ibu. Toh, berusaha untuk yang disayang tidak susah dan tidak melelahkan, bukan?
Satu lagi, di sekitar saya lagi banyak kasus tentang perasaan yang tidak pada tempatnya. Tidak pada tempatnya maksudnya gimana, De? Contoh sederhana, punya rasa sama pacar orang, suka sama gebetan teman, perasaan-perasaan yang menurut sosyaeti haram dirasakan. Sejak kapan merasakan sesuatu jd haram? Never-ever apologize for feeling things. Rada egois ya? emang egois. Tapi, kalau berurusan dengan perasaan, manusia jadi lemah, hilang kontrol, mabok. Saya tanya, logika masih main ngga kalau sudah ada intervensi perasaan? Most of the time, no. Mau nyalahin siapa kalau emang ada rasa? Nggak ada yg bisa disalahin. Ketikung? Saling suka salah siapa? Pandai-pandainya menjaga hati aja. Disensiin temen? Mau sampe kapan sungkan padahal diri sendiri senang? Saran saya, live for today. Selama itu menyenangkan, why not? Menyalahkan perasaan juga tidak ada ujungnya. Yang penting, bagaimana kita bertanggung jawab atas perasaan tersebut. Tidak mungkin suatu perasaan datang tiba-tiba. Berani mengawali, berani bertanggung jawab. Tidak ada namanya zona aman kalau sudah berurusan dengan perasaan.
Maju atau mundur, pilih yang mana?
Maju atau mundur, pilih yang mana?

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




