13.6.17

People and Feelings

Hi. Jadi akhir-akhir ini semakin sering mengamati manusia dan perangai-perangainya. Semakin umur saya bertambah, rasanya saya cenderung memilah mana yang harus saya tanggapi, mana yang tidak. Masa bodoh dengan perangai manusia yang saya anggap nggak penting, yang nggak faedah, yang nggak perlu saya tanggepin.

Beberapa saat lalu, beredar post-an video di line tentang siapa yang bertanggung jawab membayar pengeluaran kencan; laki-laki, atau perempuan. Video tersebut direkam dalam suatu forum, dengan mayoritas pesertanya wanita, dan pembicaranya laki-laki. Saat sang narasumber menanyakan siapa yang seharusnya membayar, serempak dijawab, ya laki-laki lah. Suatu hal yang awam kita jumpai sekarang. Dalam suatu hubungan, lelaki yang sudah seharusnya, dan sewajarnya berkorban membayar, menjemput, mengantar, menjadi romantis. Jika tidak dilakukan, bilangnya, cowok macem apa tuh. Hal yang membingungkan bagi saya. Sebenarnya, yang ada dalam hubungan itu, siapa? Perempuannya saja? Laki-lakinya saja? Kan, dua duanya. Dimana kedua-duanya harus usaha. Dari mana tuh definisi kalau cowok, harus antar jemput, harus yang bayar kalau makan? Beda cerita kalau sudah dalam ikatan pernikahan lho ya. Ini mash pacar, lain cerita lagi kalau suado punya penghasilan sendiri. Maksud saya, memangnya ada yang salah kalau perempuan yg bayar sendiri? Perempuan yang jemput? Toh, sama-sama manusianya, sama-sama didalam hubungannya? Kapan hari, saya dibilang budak cinta karena doyan jemputin. Lah? Budak cinta darimana? Saya ngelakuinnya juga nggak keberatan, seneng-seneng aja. Definisi darimana kalau lelaki yang harus terus-menerus usaha? 
It's just doesn't work that way for me. Sudah ngapain aja sebagai perempuan hingga ada aturan kalau harus dimuliakan dan diperlakukan seperti putri sedemikian rupa? Balik lagi, dalam konteks hubungan yang bukan pernikahan ya. Usaha itu penting, esensial, sampe segitu pentingnya, sering susah dilihat :) Tell me, seberapa sering kita melihat hasilnya aja, alias result-oriented instead of melihat usahanya? Sering, banget. Usaha itu ngga gampang, jangan diremehkan, jangan lupa diliat, jangan lupa diapresiasi. Relationship works both ways, bapak-bapak dan ibu-ibu. Toh, berusaha untuk yang disayang tidak susah dan tidak melelahkan, bukan?

Satu lagi, di sekitar saya lagi banyak kasus tentang perasaan yang tidak pada tempatnya. Tidak pada tempatnya maksudnya gimana, De? Contoh sederhana, punya rasa sama pacar orang, suka sama gebetan teman, perasaan-perasaan yang menurut sosyaeti haram dirasakan. Sejak kapan merasakan sesuatu jd haram? Never-ever apologize for feeling things. Rada egois ya? emang egois. Tapi, kalau berurusan dengan perasaan, manusia jadi lemah, hilang kontrol, mabok. Saya tanya, logika masih main ngga kalau sudah ada intervensi perasaan? Most of the time, no. Mau nyalahin siapa kalau emang ada rasa? Nggak ada yg bisa disalahin. Ketikung? Saling suka salah siapa? Pandai-pandainya menjaga hati aja. Disensiin temen? Mau sampe kapan sungkan padahal diri sendiri senang? Saran saya, live for today. Selama itu menyenangkan, why not? Menyalahkan perasaan juga tidak ada ujungnya. Yang penting, bagaimana kita bertanggung jawab atas perasaan tersebut. Tidak mungkin suatu perasaan datang tiba-tiba. Berani mengawali, berani bertanggung jawab. Tidak ada namanya zona aman kalau sudah berurusan dengan perasaan.
Maju atau mundur, pilih yang mana?

28.2.17

Relationship(s) ; a morning thought

Relationship. Well mungkin beberapa orang akan menginterpretasikan ini sebagai bahasa gaul jaman sekarang alias- pacaran. Padahal relationship ini maksudnya hubungan secara general antar manusia. And pacaran- included. 

Bagi sebagian besar populasi remaja dan dewasa muda masa kini, rasanya sering banget kita liat quote atau meme yang menggambarkan seolah pacaran itu adalah goals ato gold standard yg harus dicapai. Memangnya, apa yg salah dengan tidak pacaran, atau bahkan single atau jomblo? Saya pikir, pacaran jadi gold standard karena manusia pada dasarnya butuh pegangan, suatu jaminan. Dimana suatu hubungan pacaran secara nggak langsung adalah suatu jaminan. I own you, you own me. Jadi orang merasa nggak perlu banyak-banyak mengkhawatirkan orang satunya lari karena ya, kamu punyaku. Well, everything has consequences and there where the problem comes. Menurut saya, suatu konsep kepemilikan cukup berbahaya. Even itu memberikan jaminan dan rasa aman. Saat sudah merasa memiliki, usaha orang menurun, dan cenderung memiliki ekspektasi. Ekspektasi ini yg membuat orang menjadi demanding, punya suatu standar yang harus dipenuhi oleh pasangannya. 'Kamu kalo kemana-mana bilang' 'kok kamu pake baju itu sih' 'aku gak suka kamu kayak gitu'. Ekspektasi. Seperti misalnya kita punya mainan boneka barbie, ato tamiya. Barbie harus terlihat cantik, dengan baju berbagai macam. Tamiya harus terlihat paling keren, dan paling cepat.  Pada akhirnya, orang berbohong untuk memenuhi ekspektasi pasangannya, tidak lagi menjadi diri sendiri. And you end up loving a shadow. Berbahaya. Jealousy is also a sign. Tanda ingin memiliki, tanda suatu kepemilikan. Kalau udah ada rasa-rasa begini, zona berbahaya. Bahaya karena bikin orang buta dan lupa. Pada akhirnya, terlalu sibuk berekespektasi dan cemburu sana-sini, hingga lupa, pada awalnya tujuan hubungan untuk membahagiakan satu sama lain. Kepemilikan membuat orang lupa, pada awalnya mereka berkomitmen pada apa. Kepemilikan sebenarnya juga nggak menjamin. Misal pacaran, it's just a status, hati manusia siapa yang tahu? Siapa tau perasaannya jalan-jalan? Org sudah ada hadist yg bilang Allah tuh maha membolak-balikkan hati manusia. Hubungan pertemanan juga begitu, meskipun nggak terlalu terlihat. Misal, didalam suatu kelompok, memang ada jaminan, mau pergi ada yg diajak, dikelas ada yg ditemenin, but, ekspektasi tetep ada. Kalo pergi harus ikut, kalo ulang tahun harus ngado, etc. Somehow, konsep kepemilikan membuat kita secara nggak langsung merasa punya tanggung jawab. This is why kadang saya masih takut belum ada yang bisa menerima saya yg apa adanya, yang seperti ini. 

Sekarang, sering banget juga kita liat quotes tentang php alias pemberi harapan palsu. Menurut saya, php itu nggak ada, adanya berharap berlebihan. Kan kali aja nggak bermaksud memberikan harapan, mungkin mau temenan aja, mungkin anaknya baik, mungkin dia emang gitu, dan banyak lagi mungkin-mungkin yg lain. Why blame others disaat kamu yg emang ngarepnya ketinggian? Balik lagi, orang akan cenderung menyalahkan hal lain, untuk menjustifikasi, mengurangi sakit hati yang dia alami. Another example? Telat karena macet- kenapa ga berangkat pagian? Ujian dapet jelek karena soal susah- kenapa belajar standar2 aja? Etc etc. 

Mungkin beberapa orang nggak setuju sama apa yg saya bilang. Mungkin saya dianggep terlalu skeptis karena nggak punya pacar. Well, it's just my point of view anyway. Why not live in the moment instead of membingungkan society mau bilang apa dan menyalah-nyalahkan?